Saturday, 26 August 2017

NEW
Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra. yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional. Dan efeknya, orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini sebagai alat tuduh terhadap Rasulullah dengan menganggapnya fedofilia.

1. Bersumber dari hadith dhaif atau lemah
2. Hadith bukan sunnah dari bicara mulut nabi Muhammad s.a.w dan Aisyah sendiri.
3. Hadith ditulis seorang perawi tua yang bukan saksi mata pernikahan berusia lebih 80 tahun dan akalnya mulai lemah.
4. Berdasar penceritaan dari orang ke orang dan dari mulut ke mulut.
5. Hadith ditulis di Iraq padahal Muhammad s.a.w nikah di Medinah.
6. Umur di hadith setelah dihitung dengan tahun kelahiran jelas bertantangan.

Mari kita buktikan. Secara keseluruhan data-data yang dipaparkan tulisan ini diambil dari hasil riset Dr.M. Syafii Antonio dalam bukunya, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager (2007).

Kualitas Hadits

Alasan pertama. Hadits terkait umur Aisyah saat menikah tergolong problematic alias dho’if. Malah Hadits tersebut bukan sabda Muhammad s.a.w sendiri. Beberapa riwayat yang menerangkan tentang pernikahan Aisyah dengan Rasulullah yang bertebaran dalam kitab-kitab Hadits hanya bersumber pada satu-satunya rowi yakni Hisyam bin ‘Urwah yang didengarnya sendiri dari ayahnya. Mengherankan mengapa Hisyam saja satu-satunya yang pernah menyuarakan tentang umur pernikahan ‘Aisyah r.a tersebut. Bahkan tidak oleh Abu Hurairah ataupun Malik bin Anas. Itu pun baru diutarakan Hisyam tatkala telah bermukim di iraq.

Hisyam pindah bermukim ke negeri itu dalam umur 71 tahun. Mengenai Hisyam ini, Ya’qub bin Syaibah berkata: “Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke Iraq.” Syaibah menambahkan, bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq. (Ibn Hajar Al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib. Dar Ihya al-Turats al-Islami, Jilid II, hal. 50) 

Termaktub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi Hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun (Al-Maktabah Al-Athriyah, Jilid 4, hal. 301). Alhasil, riwayat umur pernikahan Aisyah yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah, tertolak.

Urutan Peristiwa Kronologis

Alasan kedua. Terlebih dahulu perlu diketahui peristiwa-peristiwa penting
secara kronologis ini:
Pra-610 M : Zaman Jahiliyah
610 M : Permulaan Wahyu turun
610 M : Abu Bakar r.a. masuk Islam
613 M : Nabi Muhammad SAW mulai menyiarkan Islam secara terbuka
615 M : Umat Islam hijrah I ke Habsyah
616 M : Umar bin al-Khattab masuk Islam
620 M : Aisyah r.a dinikahkan
622 M : Hijrah ke Madinah
623/624 M : Aisyah serumah sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW.
Menurut Al-Thabari, keempat anak Abu Bakar ra. dilahirkan oleh isterinya pada zaman Jahiliyah. Artinya sebelum 610 M.

Jika ‘Aisyah dinikahkan dalam umur 6 tahun berarti ‘Aisyah lahir tahun
613 M. Padahal menurut Al-Thabari semua keempat anak Abu Bakar ra. lahir pada zaman Jahiliyah, yaitu sebelum tahun 610.  Jadi kalau Aisyah ra. dinikahkan sebelum 620 M, maka beliau dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW dalam umur di atas 13 tahun. Kalau di atas 13 tahun, dalam umur berapa pastinya beliau dinikahkan dan serumah? 

Untuk itu kita perlu melihat kepada kakak perempuan Aisyah ra. yaitu Asma.

Perhitungan Usia Aisyah
Menurut Abdurrahman ibn Abi Zannad, “Asma 10 tahun lebih tua dari Aisyah ra.” (At-Thabari, Tarikh Al-Mamluk, Jilid 4, hal. 50. Tabari meninggal 922 M) Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, Asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah (Al-Asqalani, Taqrib al-Tahzib, hal. 654). Artinya, apabila Asma meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal pada tahun 73 atau 74 Hijriyah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah, sehingga Aisyah berumur (27 atau 28) – 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijriyah. Dengan demikian berarti Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW pada waktu berumur 19 atau 20 tahun.
Allohu a’lam bishshawab.

Rijalul Imam
Direktur ISCDIC (Indonesian Students Community for Development of Islamic Civilization) Studi Kritis Umur Aisyah ra. Sejak jaman sekolahan, kita telah membaca dan diberitahu bahwa Rasulullah s.a.w menikahi Aisyah ra, putri Abu Bakar ash Shidiq ketika Aisyah ra. berumur 6 tahun, dan berumah tangga dengan Rasulullah s.a.w ketika Aisyah ra. berumur 9 tahun. Riwayat ini tercatat dengan terang dalam kitab hadist Sahih Bukhori dan selama ratusan tahun menjadi kebenaran dan dibenarkan oleh ulama-ulama dan guru-guru agama dimanapun.

Hadist dan sejarah juga mencatat bahwa saat Aisyah ra. menikah, beliau masih bermain-main dengan boneka dan ayunannya. Siapa saja yang mendengar informasi ini apabila cara berfikirnya masih normal akan menolak menyetujui kekonyolan itu. Apabila kita tidak memperhatikan bahwa pernikahan itu berlaku pada keluarga Rasulullah s.a.w tentunya kita sudah menuding pria yang menikahi anak perempuan berumur 6 tahun pastilah seorang pedofilia. Lalu bagaimana para ulama dan umat Islam mencari-cari pembenaran pernikahan Aisyah ra. dengan Rasulullah s.a.w ketika Aisyah ra. baru saja melewati masa balita-nya.

Pembenaran-pembenaran yang dipaksakan itu adalah:
Menganggap pernikahan seperti itu adalah wajar pada masa itu.Pernikahan
tersebut menunjukan bahwa Aisyah ra. sudah matang berumah tangga sejak kecil dan merupakan kehebatan Islam dalam membentuk kedewasaan seorang anak.
Bagaimanapun, penjelasan diatas tidak bisa diterima begitu saja oleh akal sehat. Hanya orang-orang naif yang mempercayai jawaban itu dan secara tidak langsung terus menerus mengkampanyekan pernikahan Aisyah ra. saat berumur 6 tahun.
Akibatnya, fitnah besar telah datang terhadap kehormatan diri Rasulullah yang suci, pribadi yang maksum, teladan umat Islam. Fitnah tersebut adalah bahwa seorang Nabi telah menikahi anak perempuan di bawah umur, melucuti pakaian dan meniduri anak-anak yang masih lucu-lucunya sambil memegang bonekanya. Belum lagi tuduhan pedofilia yang di lancarkan musuh-musuh Islam terhadap Rasulullah s.a.w. Naudzubullahi min dzalik.

Sebagian umat Islam bungkam atas kebenaran yang dipaksakan ini, lalu mereka membuat pembenaran dengan cara yang dipaksakan pula agar pembenaran tersebut terlihat logis. Anda tentu tidak akan menikahi anak perempuan anda yang berumur 6 tahun demi menjalankan sunnah rasul.


Umur Aisyah ra. telah dicatat salah oleh hadist dan sejarah. Tidak benar bahwa Aisyah menikah ketika berumur 6 tahun. Itu fitnah yang sangat keji. Seorang ulama besar hindustan diabad 20, Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi, karena kecintaannya kepada peribadi Nabiullah, telah mengkaji secara mendalam umur Aisyah ra. dan men-tahqiq hadist yang disahihkan oleh Bukhari-Muslim dalam kitab-nya yang berjudul Umur Aesyah.

Tentang umur Aisyah ra. banyak ahli sejarah yang menyampaikan pendapatnya. Ada yang mengatakan 9 tahun, 14 tahun, namun kebanyakan berpegang pada kitab Sahih Bukrori-Muslim yang menyebutkan Aisyah berumur 6 tahun saat menikah.
"Dari Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah s.a.w menikahiku pada saat aku
berusia enam tahun dan beliau menggauliku saat berusia sembilan tahun.
Aisyah ra. melanjutkan: Ketika kami tiba di Madinah, aku terserang
penyakit demam selama sebulan setelah itu rambutku tumbuh lebat
sepanjang pundak. Kemudian Ummu Ruman datang menemuiku waktu aku sedang bermain ayunan bersama beberapa orang teman perempuanku. Ia berteriak
memanggilku, lalu aku mendatanginya sedangkan aku tidak mengetahui apa
yang diinginkan dariku. Kemudian ia segera menarik tanganku dan dituntun
sampai di muka pintu. Aku berkata: Huh.. huh.. hingga nafasku lega. Kemudian Ummu Ruman dan aku memasuki sebuah rumah yang di sana telah banyak wanita Ansar. Mereka mengucapkan selamat dan berkah dan atas nasib yang baik. Ummu Ruman menyerahkanku kepada mereka sehingga mereka lalu memandikanku dan meriasku, dan tidak ada yang membuatku terkejut kecuali ketika Rasulullah s.a.w datang dan mereka meyerahkanku kepada beliau"

[Bukhari-Muslim No. 69 (1442)]

Makna yang sama tercatat juga dalam kitab Sahih Bukhari Volume 5, buku-58 nomor 238. [4]
Dan masih banyak lagi di dalam hadist dalam kitab Bukhari-Muslim yang mencatat cerita Aisyah ra. ini, dimana memuat 3 informasi penting, yaitu: (1) Aisyah ra. di nikahi saat berumur 6 tahun, (2) berumah tangga saat berumur 9 tahun, (3) saat dirinya di serahkan kepada Rasulullah, Aisyah sedang bermain-main ayunan.

SEMUA HADIST UMUR AISYAH RA. TIDAK SHAHIH
Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi mencatat keganjilan pada
hadis-hadist yang menyebut umur Aisyah ra.
Bukti-bukti dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ulama Islam berselisihpendapat tentang perawi hadist tersebut yang riwayatnya bersumber dari Aisyah ra. atau-kah pengamatan Urwah bin Zubair. Tapi yang pasti, bukan kata-kata atau bicara Rasulullah Muhammad s.a.w. Jika ini adalah kata-kata Urwah bin Zubair, maka itu bukanlah hadist dan hanya sekadar dongeng serta tidak memiliki implikasi apapun terhadap syariah.

Namun jika ini perkataan Aisyah ra., setelah dicermati, semua hadist
tersebut perawinya tersambung kepada Hisyam bin Urwah dari bapaknya Urwah bin Zubair yang diriwayatkan dari Aisyah ra. Hanya dari garis itu saja, hanya Hisyam bin Urwah dan Urwah bin Zubair! Tidak ada yang lain.
Tidak ada sahabat-sahabat nabi lainnya menceritakan umur Aisyah ra. saat menikah. Hanya ada Hisyam bin Urwah!

Ada apa dengan Hisyam bin Urwah? Dan siapa Urwah bin Zubair?
Tentang Hisyam bin Urwah, dua ulama besar pernah menjadi muridnya, yaitu Imam Malik dan Imam Hanafi. Hadist ini tidak tercatat dalam kitab Muwatta yang di tulis oleh muridnya Hisyam bin Urwah, yaitu Imam Malik. Hadist ini tidak tercatat di kitab-kitab yang ditulis Abu Hanifah.
Imam Malik dalam kitab Muwatta menulis bahwa Hisyam layak dipercaya dalam semua perkara, kecuali setelah dia tinggal di Iraq. Imam Malik sangat tidak rela dan tidak setuju Hisyam bin Urwah dikatakan sebagai perawi Hadist. Tehzib al-Tehzib, merupakan buku yang membahas mengenai kehidupan dan kridibiltas perawi hadis-hadis nabi s.aw, menulis Hadist-hadist yang bersanad oleh Hisham bin Urwah adalah shahih kecuali hadis-hadisnya yang di riwayatkan oleh orang-orang dari Iraq.

Ibnu Hajar mengatakan, Penduduk Madinah menolak riwayat Hisyam bin Urwah
yang diceritakan orang-orang Iraq.
Dalam kesempatan lain Ibnu Hajar mengatakan tentang Hisyam bin Urwah sebagai seorang Mudallis. Yaqub bin Abi Syaibah berkata: Hisyam adalah orang yang tsiqoh (terpercaya), tidak ada riwayatnya yang dicurigai, kecuali setelah ia tinggal di Irak.


Cukup mengejutkan setelah kita mengetahui bahwa para perawi hadist umur Aisyah ra. semuanya penduduk Iraq, padahal Muhammad dan Aisyah menikah di Madinah.

Dari orang-orang Kufah, Iraq:
Sufyan bin Said Al-Thawri Al-Kufi Sufyan bin ?Ainia Al-KufiAli
bin Masher Al-Kufi Abu Muawiyah Al-Farid Al-KufiWaki bin Bakar
Al-KufiYunus bin Bakar Al-KufiAbu Salmah Al-KufiHammad bin Zaid Al-KufiAbdah bin Sulaiman Al-Kufi
Dari penduduk Basrah, Iraq:
Hammad bin Salamah Al-BasriJafar bin Sulaiman Al-BasriHammad bin Said
Basri Wahab bin Khalid Basri

Itulah orang-orang yang meriwayatkan hadist umur Aisyah ra dari Hisyam bin Urwah. Hisyam hijrah ke Iraq ketika berumur 71 tahun. Adalah aneh jika selama hidupnya Hisyam bin Urwah tidak pernah menceritakan hadist ini kepada murid-muridnya seperti Imam Malik dan Imam Hanafi dan sahabat-sahabatnya di Madinah selama 71 tahun tinggal di Madinah.
Justru ia menceritakan hadist ini ketika hari tua menjelang ajalnya kepada orang-orang Iraq.
Lebih aneh lagi ketika kita mengetahui bahwa tidak ada penduduk Madinah atau Mekkah yang ikut meriwayatkan hadist tersebut. Bukankah Madinah adalah tempat dimana Aisyah ra. dan Rasulullah s.a.w pernah tinggal, serta tempat dimana penduduk Madinah menyaksikan waktu dimana Aisyah ra. mulai berumah tangga dengan Rasulullah s.a.w. Lalu mengapa orang-orang Iraq yang memiliki hadist ini?
Sesuatu yang aneh bukan?

Jadi kesimpulannya jelas, hadist umur Aisyah ra. saat menikah diceritakan hanya oleh orang-orang Irak dari Hisyam bin Urwah. Hisyam bin Urwah mendapatkan hadist ini dari bapaknya, Urwah bin Zubair. 
Ibnu Hajar menyebut tentang Urwah bin Zubair seorang nashibi (orang yang membenci ahlul bait). Menurut Ibnu Hajar, seorang nashibi riwayatnya tidak di percaya.
Kita tidak perlu meragukan nasihat dan ilmu yang dimiliki Hisyam bin Urwah saat ia tinggal di Madinah. Namun kita perlu memperhatikan pendapat ulama-ulama salaf yang menolak semua hadist yang di riwayatkan Hisyam bin Urwah saat ia tinggal di Iraq. Lalu bagaimana bisa Bukhari Muslim mencatat hadist ini dalam shahihnya?

BUKHARI MUSLIM MENGGAMPANGKAN PERAWI HADIST UMUR AISYAH

Salah satu prinsip ulama hadist yang dinukilkan oleh Baihaqi adalah:
Apabila kami meriwayatkan hadis mengenai halal dan haram dan perintah dan
larangan, kami menilai dengan ketat sanad-sanad dan mengkritik perawi-perawinya, akan tetapi apabila kami meriwayatkan tentang fazail (keutamaan) , pahala dan azab, kami mempermudahkan tentang sanad dan berlembut tentang syarat-syarat perawi.(Fatehul-Ghaith, ms 120)

Disinilah letak masalahnya. Umur Aisyah memang digampangkan kritik perawinya karena dipandang bukan bab penting mengenai halal atau haram suatu syariah. Para ulama hadist mengabaikan kesilapan dan kelemahan perawi dalam hadist Umur Aisyah karena umur tersebut dianggap tidak penting. Mereka tidak memeriksa perawinya secara terperinci.

Ibnu Hajar membela Bukhari tidak mungkin tersilap dalam mengambil perawi. Namun dengan kesal Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi mengatakan bahwa semua riwayat Hisyam setelah tinggal di Iraq tidak bisa diterima. Mengenai tidak diterimanya Hisyam setelah di tinggal Irak, Ibnu Hajar mengakui bahwa penduduk Madinah menolak riwayat Hisyam. Mengenai ini, saya berpendapat Ibnu Hajar dan Imam Bukhari tidak menyadari keputusannya mempermudah sanad dan berlemahlembut dalam syarat perawi pada hadist umur Aisyah ra. Telah menciderai kepribadian Rasulullah beberapa abad kemudian. Saya tidak menampik keluasan ilmu kedua ulama besar tersebut, tapi kita yang hidup jaman sekarang patut meluruskan hadist tersebut.
Ketidaktelitian riwayat Hisyam ini memang tidak mengalami masalah di jaman dulu, namun berakibat buruk saat ini. Di abad ke 20 ini, tanpa disadari oleh ulama-ulama hadist di jaman dulu, masalah umur Aisyah ra. telah menjadi fitnah yang keji terhadap pribadi Rasulullah s.a.w.
Fitnah ini tanpa sadar diiyakan oleh umat Islam sambil terseok-seok
mencari pembenarannya. Alhamdulillah, fitnah ini telah diluruskan oleh
Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi yang men-tahqiq hadist Bukhari tersebut.
Lalu berapa umur Aisyah ra. saat menikah dengan Rasulullah s.a.w?
Justru Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi berpegang lagi kepada hadist-hadist Bukhari-Muslim.

Setelah kita mengetahui bahwa hadist tentang umur Aisyah ra saat menikah dengan Rasulullah s.a.w adalah hadist yang dhaif ?atau di-dhaifkan? maka sudah sepantasnya umat Islam tidak lagi menulis atau menyebutkan umur Aisyah ra. saat menikah adalah 6 tahun.
Tulisan ini dibuat setelah melakukan walking blog terhadap blog beberapa anak-anak Tarbiyah yang secara mengejutkan masih banyak yang bangga dengan umur Aisyah ra. saat menikah. Secara mengejutkan mereka justru telah mempropagandakan sebuah fitnah terhadap nabi mereka.

Ditulis karena kecintaan yang besar kepada Ummul Mukminin Aisyah ra., Istri Rasulullah s.a.w, putri Khalifah pertama umat Islam, dan sumber riwayat hampir seper-empat hadist-hadist dan sunnah Rasul.

===========
[1] Pedofilia:
kondisi orang yang mempunya ketertarikan atau hasrat seksual kepada anak-anak yang belum memasuki usia remaja. Definisi dari Wikipedia Indonesia http://id.wikipedia.org/wiki/Pedofilia
[2] Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi, seorang ulama hadist dari tanah Hindustan yang lahir di Kandahla-India, tahun 1924. Tanah
hindustan di kenal banyak melahirkan ulama hadist, seperti al-Muttaqi.
Bapanya ialah Mufti Isyfaq Rahman, seorang ulama hadis yang amat disegani dan juga pernah menjadi mufti besar Bhopal, India.
[3] Tahqiq: Komentar atas sebuah hadist dan pembahasan lebih teliti.
[4] Sahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomer 151, Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 236, Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64, Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65, Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 234, Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 18
[5] Perselisihan dan keanehan riwayat hadist ini termuat dalam Saheh Bukhari, Saheh Muslim, Sunan Abu Daud, Jami Tirmizi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimi dan Musnad Humaidi
[6] Urwah bin Zubair adalah salah seorang Tabiin yang pernah berguru pada Aisyah ra. Di Madinah. Urwah adalah putra Zubair bin Awwam, seorang sahabat
Rasulullah yang tercatat dalam berbagai kitab sebagai salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga dan dikenal sebagai Ahlul Syuro yang ditugaskan oleh khalifah Umar untuk memilih khalifah baru penggantinya.
[7] Baihaqi menukil pendapat tersebut dari Abdur-Rahman bin al-Mahdi. Abdur-Rahman bin al-Mahdi merupakan guru Imam Bukhari dan Imam Musli. Beliau adalah tokoh penting dalam ilmu rijal (biografi perawi).

Berapa Umur Aisyah Saat Menikah?

Data-data berikut dapat digunakan untuk menganalisa umur Aisyah ra.

Data Ke-1
Al-Tabari mengatakan: Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya.
Itu artinya Aisyah ra. lahir sebelum Rasulullah menerima wahyu.
Rasulullah berdakwah di Mekkah selama 13 tahun sebelum Hijrah ke Madinah dan Aisyah tinggal bersama Rasulullah di tahun ke-2 Hijriah.
Artinya, di tahun ke-2 Hijariah, umur Aisyah sekurang-kurangnya adalah 14 tahun, bukan 9 tahun!

Data ke-2
Ibnu Hajar mengatakan, ?Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun
kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun? Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah.
Itu artinya, Aisyah ra. lahir bersamaan dengan tahun Rasulullah menerima wahyu pertama kali. Artinya, pada saat hijrah, umur Aisyah ra. adalah 13 tahun, dan saat tinggal bersama Rasulullah Aisyah berumur 14 tahun, bukan 9 tahun!

Data ke-3
Menurut Abdal-Rahman ibn abi zanna: Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisya.
Menurut Ibn Kathir: Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]
Itu artinya, umur Aisyah dengan umur Asma berselisih 10 tahun.
Berapa umur Aisyah? Secara sederhana kita harus lihat berapa umur Asma.
Para Ulama salaf sepakat Asma meninggal pada umur 100 tahun di tahun 73
H, berdasarkan sumber berikut:
Menurut Ibn Kathir: Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut riwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun [5]
Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: ?Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.[6].
Itu artinya saat hijrah umur Asma adalah 27 tahun. Jika Aisyah lebih muda10 tahun dari Asma, maka bisa di simpulkan Aisyah ra. berumur 17-18
tahun saat hijrah ke madinah. Artinya, Aisyah ra. tinggal berumah tangga dengan Rasulullah saat berumur 18-19 tahun, bukan 9 tahun!

Data ke-4
Dalam Sahih Bukhari [7] , ditemukan satu riwayat dari Zuhri bin Urwah, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah ra. Riwayat ini di riwayatkan oleh 2 orang perawi Mesir, 1 perawi Syam dan 2 perawi dari Madinah.
Hadist ini isinya panjang sekali. Ummul Mukminim bercerita dengan sangat detail dan rinci kejadian di rumahnya sejak pelantikan kerasulan hingga hijrah bapaknya, yaitu Abu Bakar ash Shidiq ke Habsyah. Aisyah ra. ingat betul siapa saja yang datang dan pergi dari rumahnya.
Jika kita perhatikan seksama isi hadist tersebut, tentulah kita
mempercayai bahwa Aisyah ra. yang menceritakan hadist tersebut bukanlah
seorang bayi. Sekurang-kurangnya dia berumur 5-6 tahun. Karena pada
umur itulah seorang manusia sudah bisa mengingat dan mengenali kejadian
di sekelilingnya.

sumber referensi:

"Muhammad The Super Leader Super Manager"

http://bin99.wordpress.com/about/meluruskan-riwayat-pernikahan-rasulullah-saw-aisyah-r-a/#respond

MENJAWAB PERNIKAHAN MUHAMMAD DENGAN AISYAH

Read More

Friday, 18 August 2017

Assalaamu’alaikum w.b.t……. 
Memangnya para nabi dan rasul tidak bisa dibeda-bedakan antara mereka, karena masing-masing dikurunia kelebihan tersendiri oleh Allah S.w.t. Tetapi persamaan-persamaan dan perbandingan yang diberikan ini cuma untuk menjawab tuduhan dari pihak Kristen yang sering MENYERANG dan menuduh bahwa Muhammad s.a.w adalah nabi palsu.
Al-Quran dengan jelas mengatakan bahwa Muhammad s.a.w adalah nabi terakhir dan penutup segala nabi sebelumnya dan ajaran Islam telah sempurna dengan menyempurna dan melengkap ajaran rasul-rasul terdahulu.
Bahkan, nabi sebelum Muhammad s.a.w, yaitu Nabi Musa dan Nabi Isa a.s atau Yesus, juga menubuat kedatangan nabi setelah mereka. Yesus sendiri pernah berkata agar murid-muridnya perhatikan dahulu buah./butiran ajaran nabi yang akan datang, jika ajaran itu mengajak menyembah selain dari Allah, maka hukumlah nabi itu.
Di situ jelas, artinya masih ada lagi nabi yang akan muncul selepas Yesus. Tidak seperti Muhammad s.a.w yang telah menyatakan dengan jelas, dia adalah nabi terakhir dalam hadith, bahkan dalam Al-Quran sendiri telah jelas.
Sebelum kita melunsuri lebih jauh, kita teliti duluan silsilah keturunan Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi Muhammad s.a.w berketurunan Bani Hasyim dan kaumnya adalah kaum Quraisy. Baginda juga mempunyai pertalian atau darah keturunan dari Nabi Yaakub, cuma keturunan dari belah Nabi Ismael. Maka keturunan Bani Israel dan Bani Hasyim mempunyai pertalian darah dan bersaudara.
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan):“Kami tidak membeza-bezakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’at”. (Mereka berdo’a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali” Al Baqarah ayat 285

Yang benar banyak ramalan tentang kedatangan nabi terdapat di Perjanjian Lama dalam AlKitab, tetapi kali ini kita cuma membicarakan tentang nubuat ini;
Ulangan 18:15 Bahwa seorang nabi dari tengah-tengah kamu, dari antara segala saudaramu, dan yang seperti aku ini (Musa), iaitu akan dijadikan oleh Tuhan, Allahmu, bagi kamu, maka akan dia patutlah kamu dengar.
.
Hayati baik-baik hujjah-hujjah yang diberikan ini. Kesesuaian ramalan itu lebih kepada persamaan Musa a.s dengan Muhammad s.a.w ketimbang persamaan Musa a.s dengan Yesus.
1 – Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alamiah, iaitu melalui percampuran fizik antara seorang lelaki dan seorang wanita, sementara Yesus lahir tidak seperti itu.
2 – Musa mempunyai hubungan rapat dengan Allah
Muhammad juga mempunyai hubungan rapat dengan Allah, kerana dia PENGHULU segala nabi dan rasul. Dia manusia pertama yang mengadap Allah di langit
“Katakan Wahai Muhammad: jika kamu kasih kepada Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), nescaya Allah mengasihi kamu.” Surah Aali Imran : Ayat 31
Untuk mendapat KASIH dari Allah, maka harus mengikut Muhammad s.a.w setelah kedatangannya. Kalau tidak mengikut Muhammad bagaimana kamu mahu mendapat KASIH dari Allah? Itu sahaja sudah membuktikan bahwa Muhammad adalah sebaik-baik manusia, dan sebaik-baik manusia SUDAH PASTI paling dekat dan disayang Tuhan.
3 – Musa mempunyai kuasa dan wibawa kerana dia menjadi PEMERINTAH kepada rakyat.
Muhammad juga mempunyai kuasa dan wibawa kerana dia menjadi pemerintah kepada rakyat. Muhammad juga boleh memberi SYAFAAT di akhirat, untuk menyelamatkan manusia dari NERAKA
Yesus TIDAK menjadi PEMERINTAH rakyat
4 – Musa mendapat kesaksian umatnya melakukan MUKJIZAT
Muhammad juga mendapat kesaksian umatnya melakukan MUKJIZAT. Telah banyak disebut tentang mukjizat Muhammad pad dialog lepas.
Antara Mukjizat Muhammad, MEMBELAH BULAN, MENYEMBUHKAN pelbagai PENYAKIT dengan hanya berdoa, menghalau JIN dan ROH2 JAHAT, berkata2 dengan HAIWAN, MAKANAN yang sangat sedikit tetapi dimakan oleh RAMAI para sahabat tetapi TIDAK HABIS2, dan camam2 lagi
Dan Muhammad bukan melakukannya di dalam gua, melainkan DI HADAPAN KHALAYAK RAMAI
5 – Musa wajahnya bersinar
Muhammad wajahnya bercahaya umpama cahaya BULAN PURNAMA
Ini antara kata2 dari para sahabat sendiri
– “Aku melihat cahaya dari lidahnya.”
6 – Musa meramal dan digenapi
Muhammad meramal dan SEMUA telah berlaku melainkan TANDA2 AKHIR KIAMAT. Jika berlaku tanda2 akhir KIAMAT, maka akan kiamat lah dunia ini tidak lama lepas itu.
.7 – Musa TIDAK BISA mengampuni DOSA manusia. Dia hanya mampu BERDOA
Dalam Keluaran menyebut, akhirnya ALLAH menyeksa manusia-manusia yang buat patung lembu itu
Keluaran 32:30 Hata, maka keesokan harinya kata Musa kepada orang banyak itu: Bahwa kamu sudah berbuat dosa yang amat besar; maka sekarang aku hendak naik menghadap Tuhan, kalau-kalau aku dapat mengadakan gafirat atas dosa kamu itu.
– Muhammad juga berdoa kepada Allah agar mengampunkan dosa umatnya. Dan jangan lupa, Muhammad dapat memberi SYAFAAT di akhirat nanti untuk membebaskan manusia dari NERAKA. Allah hanya kurniakan SYAFAAT itu kepada Nabi Muhammad seorang, nabi2 lain tidak dikurunia syafaat itu.
Dan YANG PASTI, Musa TIDAK disalib
Muhammad TIDAK disalib
8 – Korban pada zaman nabi musa
Ajaran Islam juga ada KORBAN haiwan seperti kambing, lembu, unta
Yesus datang BUKAN untuk MENEBUS DOSA manusia, SETIAP manusia bertanggung jawab atas DOSA nya sendiri
“Maka kira-kira pada pukul tiga pagi itu, berteriaklah Jesus dengan suara yang nyaring katanya: Ya Tuhanku! Wahai Tuhanku! Mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Matius 27:46)
Yesus sendiri disebutkan dalam Matius memanggil2 Tuhan. Dia sendiri TIDAK RELA disalib
“…….Sesungguhnya terkutuklah setiap orang yang tergantung pada kayu.” (Galatia 3:13)
“Orang yang berbuat dosa itu juga akan mati, maka anak tidak akan menanggung kesalahan bapanya, dan bapa pun tidak akan menanggung kesalahan anak-anaknya, kebenaran mereka yang benar terletak pada dirinya dan kejahatan orang fasik juga terletak pada dirinya.” (Yehezkial 18:20)
“Kerana anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya, pada masa itu Dia akan membalas kepada setiap orang mengikut amal perbuatannya.” (Matius 16:27)
“Biarkanlah anak-anak kecil itu, jangan dilarang mereka itu datang kepadaku kerana orang seperti inilah yang mempunyai kerajaan di syurga.” (Matius 19:14)
9 – Musa tidak memberitahu orang yang sama dengannya itu adalah KETURUNAN Yaakob. Dia hanya memberitahu bahawa nabi itu SAMA dengannya
Musa keturunan Ibrahim a.s
Muhammad keturunan Ibrahim a.s
10 – Musa memiliki seorang Ayah dan Ibu,
Yesus hanya memiliki Ibu dan tidak memiliki Ayah, sementara Yusuf Arimathea hanyalah ayah tirinya
 11 – Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, sementara Yesus menurut sejarah AlKitab tidak menikah dan tidak mempunyai anak.
12 – Musa dan Muhammad diterima sebagai seorang Nabi dan Rasul oleh kaumnya dalam kehidupan mereka bahkan sehingga sekarang ini, sementara Yesus sendiri ditolak oleh kaumnya (umat Yahudi) sejak dari awal beliau diutus Allah sehingga sekarang. Yahudi menuduh Yesus itu membawa ajaran SESAT!!
13 – Musa dan Muhammad memimpin peperangan melawan orang kafir dan orang munafik. Mereka menakluki kota-kota dan membahagi-bahagi harta rampasan perang. Sementara Isa AlMasih tidak pernah melakukannya.
14 – Musa berhijrah ke bumi Madyan / Median, Muhammad berhijrah ke bumi Madinah, Yesus tidak hijrah ke mana pun di dalam menyebarkan ajarannya.
15 – Musa dan Muhammad sama-sama menerima wahyu (Musa dengan 10 perintah Allah di atas gunung, Muhammad dengan perintah Shalatnya di atas langit ke tujuh dan berhadapan dengan Tuhan, sementara Yesus tidak demikian kerana menurut Kristian, Yesus adalah ‘Tuhan’.
16 – Menurut hadis sahih riwayat Bukhari/Muslim, Musa dan Muhammad SAW berambut ikal (keriting) sementara Yesus berambut lurus.
17 – Musa dan Muhammad meninggal di usia tua dan di usia yang wajar (Musa 120 tahun, Muhammad 63 tahun), sementara Yesus dalam VERSI KRISTEN ‘meninggal’ di usia muda dan 30-an tahun dan menurut catatan Abdullah Ibrahim penginjilan Yesus hanya selama 3 tahun, yang bererti Yesus hanya berumur 33 tahun sewaktu ‘wafat’.
18 – Musa dan Muhammad wafat secara wajar (sakit dan seumpamanya), menurut Kristian pula Yesus wafat disalib
19 – Bahawa Yesus dalam kalangan Kristian sekarang ini dianggap sebagai Tuhan sementara Musa bukanlah Tuhan.
20 – Yesus telah dianggap wafat untuk menebus dosa-dosa manusia, tetapi Musa tidak wafat untuk menebus dosa-dosa.
21 – Yesus bangkit setelah 3 hari wafatnya di kayu salib namun Musa tidak bangkit dari kematian setelah 3 hari dari wafatnya

MUHAMMAD S.A.W DINUBUAT DALAM ALKITAB

Read More

Tuesday, 6 June 2017


Nabi Muhammad s.a.w ternyata memang benar telah disebut dan nubuat kedatangannya jelas terdapat di Alkitab umat Kristen atau Taurat Israel.  Nama Nabi Muhammad s.a.w disebutkan di dalam Alkitab Perjanjian Lama yang dibaca dalam bahasa Ibrani dapat kita simak dan lihat tepatnya pada “SONG OF SOLOMON 5:16”.  

Ayat ini terdapat dalam Kitab Kidung Agung ditulis raja Salomon, berabad-abad  lamanya. Tetapi kalau melihat secara mendalam pada Kidung Agung 5:16 tersebut, ternyata didalamnya tersimpan kode nubuatan.
Yuk, kita lihat Kidung Agung 5:16 berdasar bahasa Ibrani/Hebrew;

םלשׂורי תונב יער הזו ידוד הז םידמחמ ולכו םיקתממ וכח 

hikvō mamətaqqîm vəkullvō mahămadîm zeh dwōdî vəzeh rē‘î bənwōt yərûšālāim. 

Perkataan yang dimerahkan tersebut dibaca dengan sebutan muhammadim.

Kidung Agung 5:16 “Kata-katanya manis semata-mata, Muhammadim, Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.”

LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) menerjemah Muhammadim menjadi;

Kidung Agung 5:16 “Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.”

"segala sesuatu padanya menarik" cuma ayat terjemahan ke bahasa Indonesia, maka tidak bisa dikatakan benar. 

Pada kitab Kidung Agung (Song of Solomon) sangat jelas mencantumkan nama Muhammad (MHMD) dengan menambahkan kata “dim” yang artinya “yang agung”.
Dalam bahasa hebrew, imbuhan -im itu adalah plural of respect, yang berarti muhammadim itu adalah nama orang dan tidak berarti perkataan 'all together lovely".
Ayat itu tidak cuma menyebut Muhammad, tetapi jelas dalam bahasa Hebrew menyebut Muhammadim. Maka semua perkataan yang punya -im pada ujungnya dalam bahasa Ibrani, adalah merujuk kepada seorang manusia atau individu yang spesifik. 


“muhammadim” hanyalah sifat dan sama sekali bukan nama orang

Lihat bukti perbandingan ayat Kidung Agung;
Kidung Agung 5:10
(Hebrew) דודי צח ואדום דגול מרבבה׃
(Hebrew With Vowel) דֹּודִי צַח וְאָדֹום דָּגוּל מֵרְבָבָֽה׃
(Transliterasi) dvōdî sah və’ādvōm dāgûl mērəbābâ:
(KJV) My beloved white and ruddy, the chiefest among ten thousand.
(Terjemahan Bebas) Kekasihku itu putih dan merah sehat, pemimpin diantara 10.000 orang.

Kidung Agung 5:16
(Hebrew) חכו ממתקים וכלו מחמדים זה דודי וזה רעי ב*ות ירושׁלם׃
(Hebrew Wiith Vowel) חִכֹּו מַֽמְתַקִּים וְכֻלֹּו מַחֲמַדִּים זֶה דֹודִי וְזֶה רֵעִי בְּ*ֹות יְרוּשָׁלִָֽם׃
(Transliterasi) hikvō mamətaqqîm vəkullvō mahămadîm zeh dwōdî vəzeh rē‘î bənwōt yərûšālāim:
(KJV) His mouth is most sweet: yea, he is altogether lovely. This is my beloved, and this is my friend, O daughters of Jerusalem.
(Terjemahan Bebas) Teramat manis tutur katanya, dia adalah mahămadîm. Inilah kekasihku dan sahabatku, O puteri-puteri Yerusalem.

Sangatlah jelas sekali pun ada yang menyangkal, perkataan “my beloved” adalah MAHAMADIM (MHMDM) atau MUHAMMADIM (Muhammad Yang Agung) karena hanya Muhammad adalah nabi yang memimpin 10.000 pasukan dalam penaklukkan kota Mekkah yang nama aslinya adalah Paran.


Kenapa ‘Mahàmadîm’ dibaca ‘Muhammadim’?

Huruf Ibrani kuno hampir sama dengan Huruf Arab Gundul hari ini….TANPA TANDA BACA
Dalam Bahasa ARAB ..TANPA HAROKAT
Dalam Bahasa IBRANI..TANPA NIKUD
Orang yang terbiasa dengan bahasa ARAB akan dengan mudah membaca YQL sebagai YAQULU dan bukan YUQALU dari makna kalimat…

Hal yang sama juga terjadi pada IBRANI. Hanya saja problemnya BAHASA IBRANI sudah ribuan tahun tidak dipake sebagai BAHASA PERCAKAPAN tapi hanya sebagai BAHASA TEKS SUCI…BAngsa Ibrani tercerabut dari BAHASA ASLInya karena mereka mengalami DIASPORA ke seluruh penjuru dunia akibat PENGUSIRAN ROMAWI dari YERUSALEM pada abad2 pertama…
BAHASA IBRANI hari ini adalah IBRANI MODERN yang berasal dari Kitab Asyiria…

Adapun Kitab bahasa Ibrani yang memakai TEKS berbasi KITAB IBRANI..
Karena itu..frase מחמדים yang terdiri darii huruf Mem-cHet-Mem-Dalet-Yod-bisa anda baca MUHMADIM…MAHMUDIM..MAHAMADIM…MUHAMADIM…
Dan tak seorangpun bisa mengklaim bahwa BACAANNYA PALING BENAR karena dia sendiri pun bukan orang IBRANI KUNO yang menggunakan TEKS ASLI


Yang mana benar namanya muhammad atau muchamad?

Huruf IBRANI tidak mengenal huruf Ch…seperti Chandra…Ch adalah bentuk halus dari Ha…Penggunaan huruf C karena orang non Semit tidak bisa membedakan huruf HA yang ini (ח) dengan huruf HA yang ini (ה)

Karena itu untuk membedakan kedua huruf yang berbeda secara PENGUCAPAN ini maka ditambahkan C untuk membedakan Ha yang Halus (ח) yang keluar BERDESIS dari dasar tenggorokan dan Ha yang Kasar (ה) yang keluar tanpa DESIS

Anda bisa membaca perihal huruf Ibrani Modern dalam sub Judul “Letters of the Alefbet”:
dimana didalamnya anda bisa membaca perbedaan ” The “Kh” and the “Ch” are pronounced as in German or Scottish, a throat clearing noise, not as the “ch” in “chair.”

Dan dalam bahasa Arab pun mengenal huruf HA yang kasar tanpa suara DESIS ( ه) seperti dalam kata “hasad”(dengki) dan HA yang halus dengan suara DESIS ( ح) seperti dalam kata “hasan”(baik)
Dan HA pada kata MUHAMMAD dari jenis yang BERDESIS…

Karena itu penggunaan HA yang ditulis dalam TEKS INGGRIS sebagai CH dan bukan HA adalah PENEKANAN bahwa itu memang penulisan NAMA yang sama dengan nama seorang NABI.


Untuk mengetahui Muhammad lebih tepat dalam Alkitab, penulis tampilkan link yang bisa dijadi sumber, berdasar ceramah Da'i Ahmed Deedat. Silah lungsuri https://www.youtube.com/watch?v=MNFk3uuRNw0 

NAMA MUHAMMAD DI ALKITAB

Read More

Copyright © 2014 Ku Deens Blog | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top